on Jumat, 20 Januari 2012
I dunno dude, I just feel.. oh no, it's my business
MySpace

ya, orang-orang biasanya menyukai hal yang umumnya disukai oleh banyak orang, lalu mendiskriminasikan "hal yang tidak disukai" tersebut dengan menskeptiskan apapun mengenainya. tapi jangan salah, berarti anda benar.. eh ?
#plak ! ayolah.. ehm jadi gini, menurut saya pribadi, definisi kata aneh adalah "berbeda", berbeda dari kebanyakan orang, dari kebanyakan hal/benda.. dan tau apa ?
itu keren !

sebagai perbandingan, coba liat gambar ini:

Figure 1
lalu lihat yang ini :


Figure 2
MySpace
aehem ! maaf, akan saya lanjutkan. bisa kalian dilihat di figure 1, itu adalah tipe "trendy" jaman sekarang, biasanya terlihat di mall, pasar, tukang asongan, rel kereta, pangkalan becak, istana negara, dll. ok yang tadi ngaco, intinya mereka adalah para penganut trend dan fashion terbaru, para fashionista dan fashionisti (saya belom nemu definisi penggila fashion bagi pria -red), biasanya setiap ada trend terbaru akan berbondong-bondong dan berusaha menjadi yang pertama menggunakannya, terlihat keren. karena mengikuti trend

lalu liat Figure 2. . .
MySpace
maaf.. di figure kedua kita melihat sepasang manusia yang biasanya disebut "kutu buku"/"cupu" dan sebagainya. mereka biasanya tidak ambil pusing dengan penilaian orang disekitarnya mengenai apapun tentang dirinya. bagi mereka, penampilan luar tidak lah terlalu penting. mereka mengenakan apa yang menurut mereka nyaman untuk digunakan, persetan dengan trend.. tidak mengikuti trend tidak akan membuat dunia kiamat.

dan tau apa ? menurut saya, mereka lah yang keren !
they've their own style.. mereka menjadi diri mereka sendiri, mereka bebas mengenakan apapun, memakan apapun, pergi kemanapun, punya hobby apapun, dan lain-lain tanpa perlu memikirkan trend tahun ini apa ? apa yg harus digunakan saat tahun baru ? apa ? apa ? bagaimana kalau ?
persetan, itu adalah badan mereka sendiri.

jadi, seseorang yang memakai high heel, terlihat anggun tapi pasaran dan tersiksa. atau memakai sneakers, nyaman dan berbeda. pilih mana ?



bukan hanya soal diatas, dalam hal musik, ideologi, dsb.. menjadi aneh dan berbeda tidaklah buruk, that's cool dude

MySpace

NB: sepertinya posting ini agak sarkastis ya ?
bodo, ini blog saya >:D
on Selasa, 17 Januari 2012

Hari ketiga bersama Neko, and the result ?
Kacau !!
Jika ada tipikal remaja ababil, lebay, hiperaktif, dan banyak ngoceh versi kucing.. maka Neko adalah salah satunya. Kurang behel dan Blackberry, atau setidaknya kemana-mana naik elang, maka dia akan menjadi terendsetter anak gaul diantara para kucing.
Sumpah, ini kucing paling hiperaktif yang pernah menjadi (korban) saya. Memang, diantara kucing-kucing yang dulu pernah saya (korbankan) pelihara ada juga yang galak dan tidak suka disentuh, tapi seenggaknya dia ga alay !
Keseharian Neko adalah: ngeong-ngeong dengan frekuensi 180db minta makan – kejar-kejaran – ngerusakin properti – menyiksa saya dengan cakar dan taringnya – ngerusakin properti lagi – ngeong-ngeong minta minum – menyiksa saya lagi - tidur – ngerusakin properti lagi – pup – main-main gajelas dengan properti – properti rusak – begitu terus dan terus berulang.
#C’mon Neko, tusuk aja aku pake belati !! T_T
Dulu pas pertama Kimba datang kesini, dia juga pernah pup sembarangan. Ok, itu kesalahan saya karena waktu itu ngurung dia dikamar sementara saya pergi, dan setelah saya kenalkan dengan pasir dia rajin keluar setiap ada panggilan alamiah itu.
Tapi tidak dengan Neko ! secara alamiah juga, dia menjadikan kamar saya sebagai WC pribadinya.
mulanya waktu pertama dia melakukan hal terkutuk itu ok masih saya maklumi, mungkin karena faktor muka penjaga WC saya jadi dia kira ini WC umum. Tapi tidak, esoknya dia ulangi lagi ! dan lagi lagi esoknya !! ya tuhaaaaan T_T
Total udah 3x dia melaksanakan dinasnya di pojok kamar saya, begitu pula dengan masalah buang air kecil. Pojok kamar dan bawah meja adalah tempat paporit si Neko (alay) dalam melancarkan aksi bejatnya.
Peletakan bak pasir di depan pintu juga ga banyak menolong, dia cuman mengendus-endus lalu mulai lagi berbuat alay bin norak lainnya. Geez, Neko.. kau ini sebenarnya apa ? T_T

on Senin, 16 Januari 2012

 
Neko, nama yang aneh. Terdengar agak kejepang-jepangan kali ya ?
mungkin.. tapi sebenarnya, kata ini diambil dari bahasa jawa, “Neko-neko”, yang berarti “macem-macem”. Nama ini dikasih sama si monyong (thanks nyong atas nama yg “kalem” ini.. #cekek goyang2 ), katanya dikasih nama Neko biar ga Neko-neko. Nah lo ? 

pepatah lama oom Sakespeare, “apalah arti sebuah nama”, ternyata memang sudah usang. Nama itu berpengaruh komandan !

Setidaknya bagi kucing, Neko tumbuh menjadi kucing yg bawel, bahkan melebihi Kimba. Mulanya sih saya kira Neko itu penakut dan kalem, secara attitude-nya #ceilee.. pas pertama kali begitu, dan terbukti ternyata salah besar !

Setelah menginap satu hari satu malam di kamar kos, dan sudah hampir membaui seluruh wilayah New world’nya, barulah keluar sifat asli Neko yang beringas. Aseli beringas banget, dia tidak bisa berhenti main kalau sama orang yg udah dikenalinya. Kabel, tissue, selimut, kasur, buku, semuanya adalah objek “makanan” bagi Neko. Punggung saya pun habis dicakari dalam aksi wall-climbingnya, cih.. poor me god T_T

Namun karena kucing betina, agaknya dia masih tetap memiliki sifat asli para wanita, yaitu suka pup sembarangan -_-“ 

#eh bener ga sih ?? :D
#digampar ibu2

Ah biarin, intinya.. dia udah pup di kasur !!
Dan itu dilakukannya 2 kali !!

#nangis di pojokan

Kejadiannya tadi malem, pas saya pulang dari warnet.. pantesan anaknya ibu kos (dan anaknya bapak kos juga, tenang aja pak) yang senyam-senyum gitu melihat saya ketika saya masuk.
Dan benar, ketika membuka pintu kamar perasaan ga enak saya terbukti.. saya salah masuk kamar !
Eh enggak, dalem kamar tuh terdapat satu benda kecil, dan bertekstur lembut agak berair.. saya cobain rasanya agak seperti belerang, #plak !

Ada pup kucing dikamaaaaar !!! #nyalain sirine

Sialan, pas saya cari pelakunya dia sedang asik molor di kamar sebelah.. yah, apa boleh buat. Mau digamparin atau diminta ganti rugi juga ga bakalan balik itu pup ke perutnya Neko, alhasil saya biarkan dan baru pagi ini saya beresin “sisa peperangan” semalam itu.

Mau tau rasanya tidur di kamar dengan ventilasi tertutup dan ada benda “itu” ?
kalo masih pengen makan nasi dan merayakan lebaran mending jangan tanya -___-“

Oiya, mengenai asal-usul Neko ini tidak akan saya ceritakan, biarlah menjadi misteri yang menyelitmuti dunia ini. Saya tidak akan bilang kalau Neko adalah hasil dikasih si boss, karena kucingnya udah kebanyakan.

#eh ? tunggu, ada yg aneh.. ah lupakan
Permisi, saya mau gamparin Neko. Sayonara !
on Jumat, 13 Januari 2012

Rumah berpagar besi itu terlihat kumuh, catnya yang berwarna biru muda sudah tak terlihat menarik lagi. Di depannya pohon oak besar yang mungkin sudah berumur lebih dari 50 tahun, menambah kesan seram yang, entahlah, muncul begitu saja seiring berjalannya waktu.

Padahal dulunya rumah ini milik seorang keturunan bangsawan yang menguasai sebagian besar tanah pertanian disini. Ya, nama distrik Carpenters bukanlah tanpa alasan, tuan John Carpenters memang tuan tanah yang disegani di daerah ini sekitar seratus tahun yang lalu. Dia merupakan salah satu dari 6 orang pionir yang membuka tempat ini, mereka adalah para ekspatriat pemberani yang melawan berbagai macam ancaman sampai tempat ini bisa menjadi seperti sekarang.

Tapi, itu hanya legenda. Nyatanya, kisah yang sesungguhnya tidak terlalu bagus untuk diceritakan, bahkan untuk sebagai obrolan ringan di kedai kopi Harold’s. Dimana biasanya penambang menghabiskan waktu sore harinya sambil menceritakan hasil penggaliannya selama sehari tadi.

Ya, sebuah tambang emas. Walaupun ilegal, sudah menjadi rahasia umum kalau tambang emas merupakan sumber pendapatan kedua setelah upah kecil di perkebunan pemerintah itu. Perkebunan kapas dan jagung yang dikelola pemerintah daerah Orange county, tidak menjanjikan kehidupan yang layak untuk warga Carpenters. Semua hasilnya akan diserahkan selama musim panen tiba, dan upah 3 dollar per hari sudah cukup membuat seorang pemuda memilih untuk menjadi bandit saja.

“hei, kau sudah mendengar rumor akhir-akhir ini ?”,
Diethard statfield, pemuda jangkung berambut pirang panjang itu terlihat sedikit mabuk, mukanya  agak merah dengan bau alkohol yang menusuk, dia adalah salah satu dari banyak penambang yang  setiap hari mengeruk pasir dan tanah di Carpenters cave.

“oh, tentang pak tua Benjamin ?”
“ya! Apa kau tidak terpengaruh dengan hal itu ?”, dia agak mencondongkan mukanya ke depan wajah pria itu.

“sudahlah, aku tidak akan bergeming dengan lelucon anak-anak begitu”. Dengan sekali teguk, dia menghabiskan setengah gelas Capucino dingin dan menepis wajah Diethard, lalu melangkah ke meja kasir. “Harold, ambil saja kembaliannya”.

Pria gendut itu tersenyum,

“Diethard Statfield! Mungkin besok kau harus mengganti celanamu dengan sebuah rok”, katanya dengan senyum menggoda di ujung pintu. “Gracie, Harold..

sorot lampu mobil pickup menyala sebentar kemudian terlihat menjauh, hilang di belokan jalan.
“cih, dia akan kena batunya. Ya kan, Harold!”, Diethard terlihat limbung, dan terjatuh di lantai. Harold menghela napas pendek, kemudian menghampiri Diethard yang tergeletak, dia tertidur.
“ayolah tuan Statfield, kau tidak bisa tidur di tempatku setiap malam..”, katanya sambil mengangkat tubuh kurus Diethard.


~Satu~

Cahaya matahari pagi yang pucat mulai merayapi rumah-rumah kayu Carpenters, hujan gerimis semalam meninggalkan aroma yang khas, membuat semua orang enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Danau dadakan yang tercipta dari hujan beberapa hari ini dipenuhi kupu-kupu yang entah darimana datangnya, hinggap di pinggiran danau yang lembab. 

kepulan asap terlihat keluar perlahan dari cerobong salah satu rumah di ujung jalan, rumah berdinding kayu itu terlihat lusuh, dengan berbagai peralatan tambang di bagian terasnya. Siapa saja pasti mengira orang yang tinggal disitu adalah seorang penambang. Dan benar, Frank Walker adalah seorang penambang.

Dia menyulut rokok Marlboronya, menghela napas perlahan dan keluar menuju gundukan tanah di samping rumah itu. Semalam ia terlalu banyak minum kopi, dan dia merasakan akibatnya sekarang. Capucino dingin di kedai kopi Harold memang bisa membuatnya kalap, menggerus lambungnya perlahan dengan rasa perih yang melilit.

Dia berganti menatap rumah bercat biru muda, pagar besinya tampak berkarat parah. Di distrik ini hanya ada dua bangunan yang dipagari besi, Balai kota, dan rumah keluarga Carpenters. Sudah lama ia penasaran ingin masuk kedalamnya, namun selalu dia urungkan. Dia tidak suka mencampuri urusan orang lain, dan terlebih dia sangat tidak suka jika orang lain mencampuri urusannya.

"oh Karen!", Frank agak berjingkat mengetahui siapa yang datang dari belakangnya. "ada apa?", tanyanya datar. Tidak menjawab, hanya senyum kecil tersungging di bibirnya, sambil memberikan keranjang makanan, lalu pergi dengan cara berjalan yang membuat Frank sebal.

"cih!", dia memeriksa isi keranjang, ada banyak makanan cukup untuk seharian. Baguslah jadi dia tidak perlu mengeluarkan uang untuk hari ini. Frank terbatuk beberapa kali, angin September memang sudah mulai membawa hawa musim dingin ke Carpenters, rumahnya yang rapuh harus segera diperbaiki kalu tidak ingin membeku disaat ia tidur, itu tidak lucu.
dengan terbatuk-batuk ia masuk kembali kedalam rumah, ada noda merah di punggung tangannya.



~Dua~

Tidak ada laki-laki di Carpenters yang menolak untuk membelikan minum Karen Bloodstock. Setidaknya mengajaknya minum di Harold’s sudah cukup membuktikan kalau pria itu cukup menarik. Bagaimana tidak, keturunan ketiga dari James Sulivan Bloodstock, tangan kanan dari John Carpenter sang pionir. Dan ditangannya warisan dari kakeknya yang menghampar di sebelah selatan Carpenters. Darah bangsawan, cantik, apalagi ? Hanya laki-laki yang cukup bodoh yang akan menolak mengobrol dengannya.

Entahlah, tapi agaknya itu semua tidak berlaku bagi Frank Walker. Pemuda berumur 26 tahun itu tidak menunjukkan ketertarikan bahkan untuk sekedar menyapa ketika bertemu seusai mengisi shift di Camp Shelter, tempat para pekerja perkebunan melaporkan aktivitas mereka.

Frank Walker, orang baru di distrik ini datang sekitar 5 tahun yang lalu. Kabarnya dia adalah seorang desertir yang melarikan diri dari kesatuannya. Ada juga yang mengatakan kalau dia seorang mantan bandit yang insyaf karena sebuah peristiwa hebat di kota Orleans 6 tahun lalu. Tapi rumor yang paling santer adalah mengenai silsilah keluarganya, ada kabar bahwa sebenarnya ia merupakan cucu dari John Carpenter sendiri.

Dia sendiri tidak ambil pusing akan hal itu, baginya yang penting adalah dia tidak mencampuri urusan orang lain, terserah pandangan orang lain terhadapnya. Dan lama kelamaan anggapan itu mulai tenggelam seiring waktu, kini ia adalah warga Carpenters yang sah. Yang menghabiskan waktu dengan menghisap cerutu di akhir minggu bersama para penambang di Carpenters cave, atau menikmati sore di Harold’s sampai tengah malam.

“bagaimana tangkapanmu hari ini?”, sapa Donald Gakuen sambil duduk disamping Frank.
“biasa saja. Pak tua! Tambah lagi” jawabnya tanpa menoleh, tak berapa lama segelas besar Capucino tersaji di depannya.

“jangan sampai kau merasakan peluru Shootgunku nak”, gerutu Harold.
Frank tersenyum menyeringai, meneguk Capucino itu dengan santai.

“sepertinya kita harus mencari captor baru, orang-orang sisilia itu mulai kurang ajar. Mereka menawar dengan harga sangat rendah”, dengus Donald. Rambutnya yang panjang bergelombang terlihat kusut dan kotor, agaknya dia baru pulang dari tambang dan melewatkan mandi.

“Harold, berikan beer untuk temanku ini”,seru Frank. Pria gendut itu bertingkah seperti pelayan Perancis dan menuangkan beer dari drum kayu ke gelas.

“terimakasih.”,

Donald meneguk beer dingin itu, sekarang badannya agak menghangat.

“kau tidak bisa beralih captor begitu saja, kita punya kontrak dengan mereka”. Frank mengeluarkan pack Marlboro merah dari sakunya,
“Kau mau diberondong mereka ketika kita tidur ?, hm ?”, Frank menyodorkan pack rokok itu ke arah Donald,

Donald terlihat bingung sesaat, lalu menarik sebatang gulungan tembakau itu dan menyalakan api.
“lagipula selama sengketa lahan tambang itu belum selesai, kita masih bergantung pada mereka. Jalan ke Wallsmouth juga ditutup, satu-satunya pilihan adalah menahan tangkapan kita sampai kasus ini selesai. Baru kita melihat-lihat keluar”

Donald Gakuen terlihat bingung, matanya yang cekung dan sayu menandakan ia sudah tidak tidur beberapa hari. Entah apa yang dilakukannya selama itu.

“benar juga.” Satu tegukan, dan setengah gelas besar beer itu masuk ke perutnya, “terserah kau lah, you’re the boss”, katanya dengan aksen Irlandia yang kental. Ia berdiri dari tempat duduknya, mengikat rambut dan melenggang pergi.

“Walker! Seperti biasa”, katanya tanpa menoleh.
Frank tersenyum sinis, ucapan “seperti biasa” Donald adalah berarti, “kau yang bayar”. Tapi apa boleh buat, itu imbalan yang pantas bagi seorang pemain kartu yang buruk seperti dirinya.


~Tiga~
Lorong gua itu gelap, dan dindingnya terasa licin. Entah memang karena tetesan-tetesan air yang merembes dari tanah atau karena tangannya berkeringat, Clovis Rutherford berlari sudah hampir 1 jam mengitari lorong yang menyesatkan ini. Napasnya hampir terputus ketika dia mencapai Dragons hall. Akhirnya paru-paru tuanya mendapat lebih banyak Oksigen. 

Ruangan berbentuk oval ini berada jauh di dalam Carpenters cave, titik terdalam yang digali para penambang. Disini terdapat berbagai alat bantu pendukung kehidupan, dan mesin besar di tengah gua itu adalah yang terpenting. Meskipun tampak tua dan berkarat, mesin itu satu-satunya alasan para penambang bisa bernafas dengan leluasa. Mesin yang oleh para penambang disebut Dorothy itu berfungsi merubah gas metana dan uap air menjadi Hidrogen, yang kemudian dikonversi menjadi Oksigen, dan mereka patut berterimakasih kepada keluarga Bloodstock, yang telah menyediakan benda seharga 7000 dollar itu disini.

Clovis memutarkan pandangan ke sekelliling ruangan, dia tidak melihat apapun yang bergerak, selain desis uap yang keluar dari Dorothy setiap 1 menit sekali. entah karena gelap atau memang keadaanya demikian, yang jelas dalam hati ia mengutuk dirinya sendiri kenapa tadi tidak mengikuti rekan-rekannya untuk menyudahi penggalian. Ya, kilau emas telah menyilaukan matanya.

Dengan membungkuk dan ekstra hati-hati ia berjalan ke tengah ruangan.
Baterai di lampu helmnya sudah hampir habis, untung saja dia adalah penambang yang sudah cukup berpengalaman, jadi matanya sudah menyesuaikan diri dengan lingkungan gua yang gelap. Tapi entah mungkin karena lelah pandangannya sekarang terkesan kabur. atau karena perasaan takut ?

Dengan tergesa-gesa ia memutar gerendel pintu seberat 15 kilo di muka Dorothy, lalu bergegas masuk ke ruang panel utama.

Di dalamnya terdapat radio dan baterai cadangan untuk helmnya, satu-satunya alat komunikasi adalah radio yang dihubungkan dengan kabel menembus lorong gua yang mendadak mengerikan itu. Dengan tidak sabar Clovis memutar tune frequency supaya dapat terhubung dengan pos penjaga diluar
"Ayolah sialan!", hentaknya memecah keheningan. Gelas seng di dekatnya jatuh menimbulkan suara berdentang yang mengganggu, ia terdiam sesaat mengamati keluar melalui jendela kaca ruangan panas itu dengan cemas.

Tidak ada apa-apa diluar, hanya cahaya merah berputar-putar yang berasal dari lampu darurat menerangi Dragons hall dengan buruk. Ia menghembuskan napas lega, kembali dengan tune frequencynya.

"echo 001.. echo 001 kau disana?", dengan setengah berbisik ia mendekatkan microphone itu ke mulutnya. Tidak ada jawaban, hanya suara gemerisik yang terdengar dari sana.
ia mengulanginya sekali lagi, "echo 001! kode merah!"
"aku ulangi! kode merah!"

tetap tidak ada jawaban, kini suara gemerisik itu semakin lemah. berganti dengan bunyi beep yang panjang berseling
"bangsat!", Clovis menggebrak meja tempat radio itu hingga melukai tangannya. "terkutuklah orang-orang gendut itu", gerutunya sambil menyobek lengan baju flanelnya untuk menutup luka, darah segar mengalir dari pergelangan tangannya yang menganga.

"Klang!", Clovis terkesiap kaget dari aktivitasnya. Ia berlari menuju jendela kaca dan mengawasi keluar dengan cemas, sepertinya drum di sisi kiri Dorothy jatuh tertimpa sesuatu. Ia memutar pandangan ke seluruh ruangan, tetap tidak terlihat tanda-tanda kehidupan.

Setelah membalut pergelangannya yang luka ia bergegas mengambil baterai cadangan di lemari besi,
"mereka akan membayar ini!", dengusnya sambil mengisikan baterai itu ke lampu helmnya.
dengan hati-hati ia memutar gerendel pintu Dorothy, sebatang linggis tergenggam di tangan kirinya.

Bau belerang menyeruak menusuk hidung paruh elang Clovis Rutherford, ia mengernyit dengan heran. seingatnya tidak pernah ada sejarahnya aktivitas gunung api di Carpenters, lagipula daerah ini terletak di tengah-tengah pulau. "persetan!", serunya lirih, a menggenggam linggis ditangannya semakin kuat dan maju perlahan menuju lorong gelap.

Lorong ini merupakan satu-satunya jalan menuju Dragons Hall, dibuka sekitar 1 tahun yang lalu ketika para penambang dengan takjub menemukan sebuah ruangan terbuka di perut bumi. Ya, Dragons Hall memang bukan buatan mereka, ini adalah gua alami yang aneh.

Persetan dengan hal itu, Clovis Rutherford tetap berjalan terseok-seok, kakinya yang dari tadi berlari sudah mati rasa. Ia tidak memikirkan rasa sakit lagi setidaknya untuk saat ini, ia hanya ingin segera keluar dan meneguk segelas besar beer di Harold's.

Clovis ternganga beberapa saat, kini ia tahu alasan radionya tidak bisa terhubung keluar, rupanya pipa baja yang membungkus berbagai kabel listrik dan komunikasi dari pos penjaga ke Dorothy telah rusak. Kilatan-kilatan api kecil terlihat memercik di ujung kabel yang terputus. Beberapa meter saja kabel itu putus lebih dalam, semua ruangan ini akan dipenuhi api. Konsentrasi gas metana di dalam gua memang sangat tinggi di lorong sebelum Dragons Hall, dan tempatnya berdiri sekarang hanya berjarak kurang dari 20 meter, ia harus segera keluar dari sana.

Ia melanjutkan lagi berjalan menelusuri lorong gelap itu, tangannya yang terluka terasa perih terkena karat dan kain flanel yang kasar. Berkali-kali ia mengumpat dalam hati meratapi nasibnya sendiri, 15 tahun hidup sendiri dengan keadaan yang keras telah membuatnya lelah, cukup lelah bahkan untuk menjadi alasan mengakhiri hidupnya sendiri 2 tahun yang lalu. Andai saja anak itu tidak menolongnya. Ya, si anak yang terbuang, Frank Walker

Lamunannya buyar ketika ia sampai di persimpangan lorong A3, dihadapannya tampak pemandangan yang belum pernah disaksikan bola mata birunya yang kusam. Pak tua Clovis yang berbadan kekar itu limbung, lambungnya terasa mual

"Benjamin!", ucapnya setengah menutup mulutnya dengan punggung tangan, napasnya kini semakin berat.
"tuhan, selamatkanlah aku..", ucapnya lirih,

~Empat~


Ada kesibukan yang tidak biasa di Carpenters, pagi itu terlihat iring-iringan mobil polisi federal dan ambulans yang datang dari kota menembus kabut tipis bulan September. Mobil itu  menyalakan sirine meraung-raung yang akan membuat siapa saja sebal ditengah waktu tidur mereka. Tapi agaknya pagi ini sebagian besar warga Carpenters sudah beranjak dari tempat tidurnya pagi-pagi sekali, mereka berkerumun untuk menyaksikan evakuasi.

Di mulut Carpenters cave terlihat kerumunan warga yang berusaha melongok kedalam garis polisi, sementara para petugas medis dan forensik langsung berhambur keluar dari mobil ketika sampai, mereka membawa semacam tandu dan kantung berwarna oranye besar.

Agak menjauh dari situ, Anna Anderson mengancingkan sweater birunya dengan tergesa-gesa. rok pendek resmi kremnya agak basah terkena embun pagi yang masih deras turun di Carpenters, ia tidak mau penampilannya buruk ketika take, dan omelan bossnya yang perfeksionis seminggu terakhir ini sudah membuatnya cukup frustasi.

Pagi ini ia terbangun dengan mata terbelalak ketika dering telepon yang nyaring menyayat malam-pagi di apartemennya yang muram. Hanya ada satu alasan telepon di ruang tengah itu berbunyi, panggilan tugas.
"tidak ada hari libur untuk seorang reporter", ia bergumam sebal dan berjalan ke tempat telepon itu berteriak.

-belum selesai
on Kamis, 12 Januari 2012
Hari ini hari terakhir UAS, dan saya dalam kondisi “mati”. Mati gaya, mati otak, mati ongkos, dan.. asal gak mati beneran deh. Tapi emang, UAS untuk MK ini udah ga bisa saya harapkan deh ntar nilainya gimana. Pertamanya sih, saya tenang2 aja, masuk seperti biasa (telat), tapi begitu masuk kelas dan lihat soal.. whuaaaaaaat ? #soal jatuh
#backsound: simfoni kedelapan mozart.

Kenapa isinya sate telur semua ?!!
ini soal isinya cuman angka Nol sama Satu (bayangkan sendiri), untuk MK ini (Sistem Digital) benar2 soalnya melenceng jauh dari perkiraan. Emang sih namanya Digital pasti berhubungan sama angka Biner (Nol dan Satu) tapi ya mbok iya’o gitu lho, bikin soal yang agak manusiawi, kita2 kan bukan Kompiyuter pak T_T.
Entah ini salah siapa, tapi daripada saya menyalahkan diri sendiri. Mending saya salahkan bukunya bang Radit yang baru, gara2 dia semalem saya ga belajar. Malah cekikikan sendiri di kamar -_-“

Tapi oke, biar fair akan saya bagi kesalahan ini jadi 2. Pertama,
a. kenapa bang Radit musti bikin buku baru, kan saya jadi tergerak hatinya untuk segera menyelesaikan membacanya. Lebih dari apapun, bahkan dari UAS yang mana itu merupakan pondasi masa depan saya. Pokoknya, Bang.. ini salahmu.
#digamparyangbikin

b. dan yang kedua, siapa sih yang bikin kurikulum pendidikan di Indonesia ini ? ancur banget, kenapa juga musti masukkin MK2 racun begitu, mbok ya masukin MK itu yang sesuai minat dan bakat saya saja, kan jadinya saya ga musti susah2 begini.. huuuft !
(NB: bakat dan minat saya= tidur & makan).

tapi ya, pada akhirnya biar ini menjadi pelajaran kita bersama. Jika anda sedang dalam kondisi seperti saya kemarin, besoknya UAS MK racun dan malamnya “diganggu” hal keduniawian. Maka,
jangan lupa ke toilet. Percayalah..

Akhirnya, saya menjadi orang yang terakhir masuk dan pertama keluar kelas, hebat ya. Dan tidak lupa, di akhir LJK, saya bubuhkan notes, “NB: bapak dosen yang terhormat, saya mohon kebijaksanaannya” .

Thats true, sayonara !

yayayayaaa.. biar aja sekarang semua orang pergi, yang penting.. saya udah megang bukunya bang Radit yang baru !!
Manusia Setengah Elang :D
#plak !
haha, setelah kemaren dulu 2 kali nyari sama monyong ga ketemu.. sekarang saya mendapatkannya, gratis :D
eh ga gratis juga sih sebenarnya, soalnya itu punya si Andri. tadi sepulang dari nganter cewenya balik, dia yang tersenyum jahat gitu (figure 1: tersenyum jahat)

Senyumnya jahat banget ya ?
oh I see, ternyata..dia sudah berhasil buang air besar.. oooh
#plak ! plak !
iya tau -_-", ternyata tadi dia beli bukunya bang Radit yg baru itu, dan dapet potongan harga keknya. soalnya dulu Unnienya monyong beli 43rb, dan Andri dapet 42rb, how lucky !!!!
(FYI, untuk ukuran cewek.. diskon 0,1 persen aja sudah bagaikan mendapat cahaya dari langit lho. masalahnya Andri ini cewek apa bukan ? ), seandainya cewek itu berjenggot tipis, keteknya berbulu, dan ga pernah mandi, mungkin dia bisa dikategorikan sebagai cewek. (cewek2 sorry ya (^^)v )

tapi karena dia orangnya baik, dan saya ganteng.. ternyata saya hanya dikasih waktu buat minjem tu buku semaleman ini, karena besok pagi dia mudik.. my damn lucky -_-"

tapi tak apalah, semalam ini berarti harus nyelesaiin deadline. hai' ganbate ne !

Eh siapa sih ini ? keren banget :D

on Rabu, 11 Januari 2012


Naaah, ga terasa besok adalah hari terakhir UAS bagi kebanyakan mahasiswa UTY, dan universitas lain tentu saja. Tapi karena saya dan beberapa yang lain ngambil MK semester 5, maka kami masih ujian sampai hari Jumat, yah tidak apa-apa. Saya malah senang, jadi masih ada kesempatan untuk menikmati waktu bersama teman-teman.
Apakah setelah itu ? ...tidak, hanya saja masa liburan memang agak menyebalkan (bagi saya) :p
seperti tahun-tahun lalu, saya menghabiskan liburan di kos sendirian, dan rasanya juga kesendirian itu ga terasa hanya di kos saja, namun di kota kecil Jogja ini, seolah semua orang pergi menghilang begitu saja :p
#plak ! #lebay bang
Hahahaha, biarin. Sekali-kali galau juga ga apa-apa biar sehat.
mau mudik juga, tidak ada yang istimewa di rumah, soalnya saya bisa pulang kapan saja. Berbeda dengan mereka yang memang rumahnya jauh, kesempatan seperti ini sangat langka mereka dapatkan.
Yah, at last.. happy holiday saja lah buat kalian. Saya akan menunggu kalian disini (^^)d
#NP:YUI -  Last Train